SISI PANDANG LAIN WABAH COVID-19

  • Whatsapp
Nurul Fajri (Sekretaris Kaderisasi FLP Ranting Al-Azhar)

Beritasulbar.com – Seluruh dunia kini sedang dilanda virus SARS-Cov-2 atau penyakit yang kita kenal dengan COVID-19. Penyakit ini sontak menjadi wabah karena penularan yang terjadi amat cepat dan menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas.

Dilansir oleh salah satu media berita dilaporkan bahwa virus Corona baru memasuki Indonesia sekitar awal Maret. Tak ayal berbagai cara dilakukan oleh pemerintah demi menghambat penyebaran penyakit seperti WFH (Work From Home), PSBB, hingga tagar-tagar di rumah saja yang selalu digaungkan di seluruh media sosial.

Bacaan Lainnya

Keadaan ini tentu mengharuskan masyarakat untuk membatasi dirinya berada di luar ruangan hingga waktu yang tidak ditentukan. Akibat karantina ini yang paling terlihat imbas nya ialah pada sektor perekonomian yang lumpuh. Namun ada imbas lain yang amat berpengaruh juga yang orang luput padanya, yaitu mental health.

Saya amat menyadari perubahan emosi seperti tingkat kekhawatiran yang berlebihan, jokes yang tidak lagi lucu, uring-uringan tanpa sebab yang terjadi pada orang-orang sejak diberlakukannya lockdown baik penerapan ‘resmi’ pada daerah maupun pada rumah masing-masing oleh orang tua yang khawatir atas keselamatan keluarganya. Hal ini wajar mengingat pemberitaan besar-besaran oleh media terkait angka Covid-19 yang terus melonjak bahkan sejak diberlakukannya New Normal.

Saya melakukan observasi singkat pada orang sekitar dan menemukan bahwa berdiam diri di rumah selama beberapa bulan bukanlah hal yang mudah untuk sebagian orang.

Untuk sebagian besar tipe kepribadian Introver mereka mengaku berdiam diri di rumah bukanlah hal yang begitu sulit, namun bagi Esktrover ini cukup menjadi masalah bagi mereka, terlebih karena mereka membutuhkan interaksi sosial secara langsung untuk kebutuhan dirinya. Meski tidak menafikan bahwa setiap orang membutuhkan sesuatu yang baru demi menghilangkan kejenuhan terlepas dari tipe kepribadian seseorang.

Menanggapi hal ini saya pun berusaha mengambil langkah demi kesehatan mental yang mungkin dapat diterapkan juga oleh orang lain.

  1. Membatasi penggunaan sosial media.
    Agar tidak terlalu cemas dengan berita yang beredar yang belum diketahui substansi nya hoaks ataupun bukan. Meyakini bahwa COVID-19 berbahaya mudah saja, namun yang paling penting adalah bertindak dengan benar seperti tetap mematuhi protokol kesehatan namun tidak juga menyepelekan wabah tersebut.
  2. Jalan-jalan singkat di sekitar area rumah untuk menyegarkan mata dan pikiran dari menatap terus menerus layar elektronik.
  3. Melakukan aktifitas baru yang belum pernah dikerjakan sebelumnya seperti menyulam, merakit, bercocok tanam, mencoba resep-resep masakan dan seterusnya.

Di masa pandemik seperti ini saya bahkan berkesempatan menyaksikan seorang teman yang memutuskan hijrah dengan segala cerita masa lalunya yang ia katakan amat buruk. Saya beranggapan bahwa wabah COVID-19 ini ialah ketetapan yang wajib disyukuri oleh tiap insan, alih-alih musibah yang disesali dan dikutuki, karena dengannya karantina selama tiga bulan ini salah satunya telah membantu seseorang menemukan perjalanan spritualitas antara hamba dengan Rabb nya.

Perubahan diri memang bisa dilakukan kapan saja, namun menjadikan wabah kali ini sebagai momentum evaluasi diri tentu menghadirkan kekhusyukan tertentu. Saya teringat sebuah quote yang mampir diberanda beberapa waktu lalu bahwa “Nasehat itu cinta, bukan untuk memastikan bahwa aku lebih baik darimu.”

Wallahu a’alam

  • Whatsapp